Author Avatar

gearoidocolmain

0

Share post:

Prsiden Joko Widodo atau Jokowi mengeluarkan peraturan Presiden atau Perpres mengenai rencana peraturan Menteri atau Permen yang harus disetujui oleh presiden.

Hal ini dilakukan agar permen sesuai dengan arahan dari Presiden. Perpres nomor 68 Tahun 2021 tentang Pemberian Persetujuan Presiden terhadap Rancangan Peraturan Menteri atau Kepala Lembaga.

Persetujuan Presiden yang dimaksud dalam perpres ini adalah petunjuk atau arahan Presiden, baik yang diberikan secara lisan atau tertulis maupun pemberian keputusan dalam siding cabinet / rapat terbatas.

Sekretasi Kabinet Pramono Anung menyebut, Perpres 68 / 2021 tidak akan memperpanjang alur birokrasi. Justru, membantu menyelesaikan masalah yang tiba – tiba muncul.

“Perpres ini tidak dalam rangka untuk memperpanjang birokrasi, sama sekali tidak ada niatan itu. Bahkan, saya secara khusus meminta kepada para deputi substansi yang ada di Sekretariat Kabinet untuk membantu mempercepat kalau ada persoalan-persoalan yang timbul di lapangan,” tegasnya.

Selain itu, Pramono menjelaskan arahan dan keputusan dalam siding cabinet dan rapat terbatas yang tertuang dalam risalah siding / rapat harus menjadi acuan dalam penyusunan peraturan Menteri dan peraturan kepala Lembaga.

Pramono pun mengakui hal tersebut masih belum sepenuhnya diterapkan pada periode pertama Jokowi.

“Seperti kita ketahui bersama pada periode pertama, seringkali apa yang menjadi arahan, keputusan, kebijakan, putusan dalam rapat terbatas, ternyata diterjemahkan berbeda oleh beberapa kementerian dan lembaga. Sehingga, terjadi hal-hal yang kemudian oleh Bapak Presiden dianggap bahwa ini perlu untuk dilakukan penertiban,” ujar Pramono.

“Bapak Presiden meminta kepada kami untuk membuat Perpres ini agar ada ketertiban secara administratif. Tetapi juga semangat, apa yang menjadi arahan Bapak Presiden itu diterjemahkan dengan benar, atau apapun yang diputuskan oleh Presiden di dalam Rapat Terbatas itu diterjemahkan dengan benar,” sambung Pramono.

Aturan mengenai rancangan peraturan Menteri yang wajib mendapatkan persetujuan Presiden diatur dalam pasal 3. Rancangan peraturan itu juga melibatkan Lembaga lain dalam penyusunannya.

Pasal 2

(1) Menteri/kepala lembaga menyusun Rancangan Peraturan Menteri/Kepala Lembaga sesuai dengan lingkup tugas kewenangannya.

(2) Rancangan Peraturan Menteri/Kepala Lembaga disusun berdasarkan:

a. perintah peraturan perundang-undangan.

b. arahan Presiden atau

c. pelaksanaan penyelenggaraan urusan tertentu dalam pemerintahan.

(3) Dalam menyusun Rancangan Peraturan Menteri/Kepala Lembaga, Pemrakarsa dapat melibatkan kementerian/lembaga lain.

Pasal 3

(1) Setiap Rancangan Peraturan Menteri/Kepala Lembaga yang akan ditetapkan oleh menteri/kepala lembaga wajib mendapatkan Persetujuan Presiden.

(2) Persetujuan Presiden sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diberikan terhadap Rancangan Peraturan Menteri/Kepala Lembaga yang memiliki kriteria:

a. berdampak luas bagi kehidupan masyarakat

b. bersifat strategis, yaitu berpengaruh pada program prioritas Presiden, target Pemerintah yang ditetapkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional dan Rencana Kerja Pemerintah, pertahanan dan keamanan, serta keuangan negara; dan/atau

c. lintas sektor atau lintas kementerian/Lembaga

Perpres itu juga menejelaskan mengenai tata cara pengajuan persetujuan kepada Presiden. Sebelum dimintakan persetujuan ke Presiden, rancangan peraturan sudah melalui pengharmonisasian. Setelah itu, permohonan diajukan secara tertulis kepada presiden.

Pasal 6

Permohonan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 harus disertai dengan:

a. naskah penjelasan urgensi dan pokok-pokok pengaturan

b. surat keterangan telah selesai pengharmonisasian, pembulatan, dan pemantapan konsepsi dari menteri atau kepala lembaga yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang pembentukan peraturan perundang-undangan.

Selanjutnya, berdasarkan permohonan yang disampaikan Pemrakarsa, Sekretariat Kabinet menyampaikan rekomendasi permohonan persetujuan kepada Presiden. Persetujuan Presiden ini terdiri atas 3 keputusan.

Pasal 8

(1) Persetujuan Presiden berupa keputusan:

a. persetujuan Rancangan Peraturan Menteri/Kepala Lembaga

b. penolakan Rancangan Peraturan Menteri/Kepala Lembaga; atau

c. pemberian arahan kebijakan lain.

(2) Persetujuan Presiden sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disampaikan secara tertulis oleh Sekretaris Kabinet kepada Pemrakarsa.

Pasal 9

Rancangan Peraturan Menteri/Kepala Lembaga yang telah mendapatkan Persetujuan Presiden ditetapkan oleh pemrakarsa dan diundangkan dalam Berita Negara Republik Indonesia.

Zulkifi Ikut Pertemuan Jokowi dan Parpol, Tunjukkan PAN Dukung Pemerintah
Ganjil Genap Jakarta Berlaku di Jalan Ini