Author Avatar

gearoidocolmain

0

Share post:

Anggota Komisi VII DPR RI dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Mulyanto heran dengan rencana pemerintah Pemerintah mengimpor 10 ribu oksigen konsentrator dari Singapura guna memenuhi kebutuhan oksigen di tengah lonjakan kasus penularan Covid-19.

Pasalnya, pemerintah pernah mengekspor tabung oksigen ke India beberapa waktu lalu. “Kemarin sudah bagus kita mengirim gas oksigen ke India. Masak sekarang kita ingin impor. Padahal bibir kita belum kering benar membahas masalah itu,” kata Mulyanto kepada wartawan, Selasa 6 Juli.

Ia pun mengibaratkan rencana impor itu sebuah perceraian dalam rumah tangga. Menurutnya, rencana impor itu sebenarnya tidak diharamkan, namun dibenci.

Mulyanto mengingatkan bahwa keran impor oksigen tidak boleh sembarangan dibuka kecuali situasi darurat dan sangat memaksa.

Menurutnya, langkah yang seharusnya dilakukan pemerintah ialah melakukan analisis supply and demand yang akurat dan mengoptimalkan produk domestik. “Jangan belum apa-apa sudah membuka opsi impor. Kebijakan seperti ini memang ditunggu-tunggu mafia impor,” tuturnya.

Mulyanto lalu meminta pemerintah memutakhirkan data produksi domestik dalam negeri. Menurut dia, pemerintah juga perlu meninjau kebijakan alokasi gas oksigen untuk sektor kesehatan dan sektor industri.

“Kalau memang sektor kesehatan masih kurang, ditingkatkan saja kuotanya menjadi lebih dari 60 persen. Kalau perlu menjadi 80 persen kuota gas oksigen,” ujar Mulyanto.

“Sangat logis kalau di tengah pandemi Covid-19 yang memuncak seperti sekarang ini, kuota gas oksigen untuk sektor kesehatan kita tingkatkan dan prioritaskan. Kita semua akan mendukung opsi kebijakan tersebut,” imbuhnya.

Sebelumnya, pemerintah berencana mengimpor 10 ribu oksigen konsentrator dari Singapura. Hal ini dilakukan guna memenuhi kebutuhan oksigen di tengah lonjakan kasus penularan covid-19.

Oksigen konsentrator adalah alat medis yang berfungsi menyediakan oksigen dengan cara mengambil udara dari luar. Alat ini akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan pasien covid-19 dengan gejala ringan.

Himpunan Pedagang Farmasi Pasar Pramuka meminta agar spekulan tak bermain di tengah kelangkaan tabung oksigen yang terjadi saat ini.

Mereka meminta agar aparat menindak hukum apabila terdapat spekulan yang mengambil untung di tengah krisis. Diketahui, stok tabung oksigen di Pasar Pramuka sudah habis sejak Jumat 25 Juni.

Hingga saat ini, pedagang belum mendapat stok tabung lagi dari agen distributor. “Kami sebagai pedagang mengimbau ke Pemprov DKI untuk segera menindak kalau memang ada spekulan-spekulan. Atau, pihak kepolisian tolong mereka ditangkap lah, atau disidak,” kata Ketua Harian Himpunan Pedagang Farmasi Pasar Pramuka, Yoyon saat ditemui di Pasar Pramuka, Jaktim, Senin 28 Juni.

Menurutnya, kelangkaan terhadap tabung oksigen ini dapat terjadi di tengah pandemi Covid-19 saat ini. Apalagi, permintaan masyarakat sedang tinggi-tingginya namun penjual tak memiliki stok yang cukup untuk memenuhi hal tersebut.

Sehingga, kata dia, perlu agar dilakukan penyaluran tabung oksigen untuk mencegah terjadinya kelangkaan saat ini. Namun demikian, di sisi lain pihak pedagang juga meminta agar masyarakat tak membeli barang ini apabila memang tak terlalu membutuhkan tabung oksigen.

Hal itu, dilakukan untuk menutup celah spekulan bermain di bidang alat kesehatan ini. “Masyarakat gak usah panik, karena itu tidak terlalu dibutuhkan oksigen itu.

Kecuali di keluarganya ada asma atau jantung, silakan. Cuma kalau hanya untuk standby atau yang lain, mendingan nanti dulu dah,” ucapnya.

Dia pun merasa hingga saat ini terdapat permasalahan distribusi tabung oksigen dari agen distributor. Pasalnya, sejak Jumat 25 Juni, belum ada toko di Pasar tersebut yang mendapat stok tambahan dari agen setelah diborong masyarakat.

“Harga masih stabil sekitar Rp750 ribu sampai dengan Rp800 ribu per kubiknya,” ucap dia. “Tapi, kita belum tahu untuk harga hari ini. Sampai saat ini kami belum tahu distributor kasih harga berapa,” tambahnya lagi.

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menyebut terjadi lonjakan kebutuhan untuk tabung oksigen hingga 3 kali lipat dari normal di DKI.

Eks menteri pendidikan ini mengungkap kendala pasokan oksigen untuk pasien covid-19 yang sempat terjadi di Jakarta bukan akibat stok menipis.

Masalah itu, kata dia, akibat distributor kekurangan tenaga pengantar dan armada untuk mendistribusikan ke berbagai rumah sakit di Jakarta.

Rumah Sakit Penuh, Pasien Covid di Indonesia Sudah Tak Tahu Mau Ke Mana
Kapolri Minta Perusahaan dan Pekerja Patuhi PPKM Darurat